Serba serbi dunia pendidikan

 
 

Mata Pelajaran TIK di SMP ada lagi ?


Tanggal 24 Desember 2014 yang lalu, perwakilan guru-guru TIK dibawah koordinasi Wijaya Kusumah, dikenal dgn panggilan Om Jay, menemui mendikbud Anis Baswedan. Kegundahan yang tersirat ini cukup beralasan setelah mendikbud sebelumnya, M. Nuh menginstruksikan implementasi kurukulum 2013 (kurtilas) dijalankan di semua sekolah pada tahun pelajaran 2014-2015 bulan juli lalu. Hilangnya  mata pelajaran TIK dalam struktur kurikulum, menyisakan masalah baru yang berkelanjutan. Meskipun pelatihan-pelatihan intensif sejak 2 tahun lalu terus dilakukan, banyak guru dikatakan belum siap.  Benarkah demikian ?

Baca lebih lanjut

Categories: Serba serbi dunia pendidikan | Tag: , , | 1 Komentar

Budaya Sekolah dan Implementasi Pendidikan Karakter.


Faktor yang memberi pengaruh cukup besar terhadap pembentukan karakter adalah lingkungan di mana seseorang tumbuh dan dibesarkan; norma dalam keluarga, teman, dan kelompok sosial. Seorang anak memiliki waktu yang cukup banyak untuk berada di lingkungan sekolah atau berada di luar sekolah  bersama teman2 satu sekolah.

Budaya sekolah  yang akan dikembangkan melalui pendidikan karakter ini, mestinya diawali dengan pembinaan karakter guru. Menjadi karakter yang benar2 pantas di gugu dan di tiru. Pengembangan budaya sekolah akan menjadi efektif jika  di dukung oleh sistim yang sudah dirancang dengan baik, sehingga suasana kondusif yang tercipta  menghasilkan kesesuaian norma-norma  yang dapat dikembangkan oleh semua unsur sekolah.  Iklim kerja yang baik menciptakan etos kerja yang baik.  Jangan sampai terjadi di suatu sekolah guru-guru yang memiliki dedikasi dan etos kerja, menjadi seperti makhluk aneh, seolah jadi “kerajinan sendiri”.  Ini artinya budaya sekolah belum berjalan dengan baik, yang berimbas pada pendidikan karakter tak akan berjalan dengan efektif.

Guru sebagai ujung tombak pendidikan karakter di sekolah,  tidak bisa lagi hanya “memberi contoh”  tapi harus bisa “menjadi contoh”.  Misalnya memberi contoh keuletan orang-orang sukses, sementara  di mata siswa sang guru menunjukkan kerapuhannya.  Menyuruh anak-anak gemar membaca, sementara  tugas  siswa  saja jarang diperiksa, apalagi membaca tulisannya.  Mengoreksi hasil kerja siswa sudah gak sempat lagi,  tapi masih punya banyak  waktu untuk ‘ngerumpi’.

Memang gak gampang  ya jadi guru, sebuah profesi yang terlanjur dibingkai Baca lebih lanjut

Categories: Serba serbi dunia pendidikan | Tag: , , , , , , , , | 2 Komentar

Pengajaran yang Effektif


Sebelum mengajar, atau terjun di dunia pendidikan, baik formal maupun non formal, guru seharusnya sudah siap dengan bekal pengetahuan psikologi anak maupun kemampuan mengelola kelas. Dari pengalaman mengajar dengan berbagai strata sosial siswa, saya melihat ada korelasi yang berbanding lurus antara kompetensi guru dengan kemampuan mengelola kelas. Maksud saya, jika guru mempersiapkan diri dan menguasai materi dengan baik, maka kelas pun dapat dikelola dengan baik.

Anak sekarang relatif lebih kritis dibanding ketika saya mengajar 5 atau 10 thn yang lalu.  Sudah bukan  jamannya lagi, guru merasa serba tahu di hadapan siswa. Mereka dapat memperoleh pelajaran dari manapun, apalagi dengan perkembangan teknologi saat ini. Aplikasi dari materi pelajaran dapat mereka peroleh di luar kelas, sehingga kadang guru disodori pertanyaan tak terduga, mulai dari hal-hal sederhana hingga yang luar biasa. Jika guru tidak rajin meng’up date” diri, menambah wawasan dan mengembangkan kompetensi, maka bisa saja siswa menjadi bosan hingga mengganggu kelas, atau menunjukkan sikap tak perduli dan malas. Tragisnya, siswa seperti ini kerap terlanjur di beri label buruk sebagai pengganggu ketenangan kelas.

Pendidikan modern  sudah seharusnya lebih menitik beratkan pada pengembangan potensi anak. Bukan lagi mencekoki anak dengan materi pelajaran dan memaksa mereka manut dan diam.

Sudah semestinya guru menguasai berbagai metode pengajaran, dan menerapkannya sesuai dengan karakter kelas dan lingkungan anak, sehingga ada interaksi yang membuat suasana kelas lebih dinamis. Jaman berubah, metode usang yang mengandalkan pendekatatan kekuasaan harus segera di tinggalkan. Mencatat di kelas apa yang sudah ada di buku teks,  ini buang waktu. Merasa paling hebat di kelas, mengkritik anak dengan pedas, atau pasang wajah galak untuk menunjukkan power, adalah sebuah pengajaran yang sama sekali tidak efektif.  Akibatnya tentu saja akan matikan kreatifitas anak, dan yang terpenting bagaimana mengajarkan mereka menjadi seorang berilmu yang dapat mengkritisi apapun secara santun.

Salam Hangat dan Semangat

Jakarta, 5 Desember  2011

Etty Lismiati

Categories: Serba serbi dunia pendidikan | Tinggalkan komentar

LAGI-LAGI TAURAN !!!


imagesSegerombolan anak SMP berjibaku dengan saling melempar batu. Di ujung lain dengan celana jangkis berwarna biru seorang anak mengayun-ayunkan ikat pinggang tak kalah seru. Bak jagoan neon, tali pinggang yang ujungnya dikaitkan gir, membuat orang-orang yang kebetulan melintas di jalan itu menjadi ngilu. Jika hinggap di kepala salah satu bocah-bocah itu, bocor sudah tentu.

Hmmm….. ueedan, beberapa anak yang terlibat, sehari-harinya keliatan manis dan penurut, kenapa nampak liar ketika bergerombol dalam tauran di jalanan.  Seperti setan-setan kecil yang mengintai untuk mencelakai diri sendiri maupun orang lain, tanpa tahu penyebab maupun  tujuannnya. Ada apa dengan mereka ini …? Bahkan yang lebih tragis lagi, korban nyawa sudah banyak bergeimpangan dari tahun ke tahun. Kematian yang sia-sia. Harus ada upaya untuk memutus mata rantai penyimpangan prilaku mengerikan ini. Tradisi babar ini tidak boleh berlanjut lagi…

ilustrasi

ilustrasi

Ini persoalan bersama, orang tua paling utama… Masalahnya masih saja ada orang tua yang menganggap kalo sudah menyerahkan anak ke sekolah berarti semua persoalan kelakuan anak didalam maupun diluar sekolah menjadi tanggung jawab guru atau pihak sekolah. Akibatnya, ketika masyarakat melihat segerombolan siswa berprilaku tidak semestinya, banyak pihak mengarahkan tatapan mata dan telunjuknya ke guru.

Penanganan prilaku anak tidak bisa dilihat sebagaimana yang tampak dari luar. Akar persoalannya tidak sesederhana itu. Penyimpangan timbul akibat akumulasi dari berbagai ketidak beresan sistim pendidikan dan gempuran lingkungan yang tidak kondusif. Termasuk peran berbagai media yang menyuguhkan tayangan yang jauh dari nilai2 pendidikan. Kekerasan yang dipertontonkan, dan kecemburuan social,  terakumulasi dalam  luapan kemarahan yang terekspresi dalam tingkah laku liar. Anak-anak ini tidak mendapat contoh baik dari lingkungannya. Sebagian mungkin cuma ikut-ikutan, tanpa tau siapa lawan mereka dan untuk tujuan apa. Media pun ikut berperan memberi stimulus untuk berbagai penyimpangan dan norma.

Menjadi PR besar guru, orang tua dan pemerintah saat ini. Bagaimana sistim pendidikan di sekolah menjadi kondusif bagi katup penyalur kelebihan energy generasi muda ini. Bagaimana peran orang tua di rumah mendampingi mereka berproses diusianya yang kritis dalam mencari eksistensi diri……..

Jakarta, November 2011

Salam Hangat dan Semangat

Etty Lismiati

Categories: Cakrawala, Serba serbi dunia pendidikan | Tag: | Tinggalkan komentar
 
 

JUJUR vs CURANG


Membaca isi hati dan kegelisahan salah seorang keponakanku , Tami yang di tulis di blognya sendiri mengenai fenomena kecurangan dalam UN, memang menarik dan mengusik. Membangkitkan kembali harapanku bahwa masih banyak generasi penerus bangsa ini yang tetap memegang teguh nilai-nilai kejujuran ditengah derasnya arus degradasi dan pendangkalan nilai-nilai pendidikan. Sebagai seorang guru, saya pun terusik dengan kenyataan memalukan dunia pendidikan ini. Setelah sekian lama Baca lebih lanjut

Categories: Serba serbi dunia pendidikan | Tag: , , , , , , , , , , , , | 4 Komentar
 
 

Jalur Prestasi ke Perguruan Tinggi


Membaca komen dan status di FB salah satu mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi ternama di negeri ini, kok sepertinya mereka keberatan  jika mahasiswa baru yang akan bergabung menjadi bagian dari almamater mereka ini masuk melalui jalur prestasi.  Jaman saya SMA dulu namanya PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan), gak tau deh apa istilahnya sekarang.

Iseng saya ‘menjambangi’ wall to wall. Ngintip status beberapa teman dan murid-murid SMP saya dulu yang sekarang sudah jadi mahasiswa. Salah seorang mahasiswa menulis begini, “ eh… masak sekarang ada calon mahasiswa yang bisa masuk kedokteran hanya dengan nilai raport. Ajaib”.  Lalu komen lainnya, “jaman kita dulu kan susah ya masuk ke sini”. Bahkan ada yang nulis gini, “kayak gak adil ya, dulu kita masuk ke sini susah banget , gak kayak sekarang”.  Dan bla..bla….bla…

Laaah ?! Padahal justru Baca lebih lanjut

Categories: Serba serbi dunia pendidikan | Tag: , , , , , , , , , , | 1 Komentar

Thema Penelitian


Alternatif Tema Penelitian Pengawasan Manajerial Sasaran atau obyek penelitian pengawasan manajerial adalah kepala sekolah, tenaga tata usaha, pustakawan, laboran dan tenaga kependidikan lainnya atau sering disebut staf sekolah. Bidang kajian pengawasan manajerial adalah upaya meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan di sekolah terutama dalam aspek administrasi dan pengelolaan sekolah. Oleh sebab itu tema-tema atau kawasan masalah penelitian bidang pengawasan manajerial antara lain dapat diidentifikasi sebagai berikut :

1. Membina Kepala Sekolah dalam melaksanakan visi, misi dan tujuan sekolah

2. Membina kepala sekolah dalam menyusun perencanaan pendidikan pada sekolahnya

3. Membina kepala sekolah dalam melaksanakan program pendidikan pada sekolahnya

4. Membina kepala sekolah dalam menyusun rencana anggaran biaya sekolah

5. Membina kepala sekolah dalam melaksanakan manajemen berbasis sekolah

6. Membina kepala sekolah dalam mengembangkan sarana dan prasaran pendidikan

7. Membina kepala sekolah dalam pengelolaan keuangan sekolah

8. Membina kepala sekolah dalam mengembangkan kemampuan guru dan staf sekolah

9. Membina kepala sekolah dalam menjalin hubungan dengan masyarakat

10. Membina kepala sekolah dalam memberdayakan komite sekolah

11. Membina kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan

12. Membina kepala sekolahdalam mengembangkan perpustakaan dan sumber-sumber belajar lainnya

13. Membina kepala sekolah dalam mengembangkan program bimbingan konseling di sekolah

14. Membina kepala sekolah dalam mengembangkan kegiatan kesiswaan

15. Membina kepala sekolah dalam mengembankan kegiatan ekstrakurikuler

16. Membina staf sekolah dalam melaksanakan administrasi kesiswaan

17. Membina staf sekolah dalam melaksanakan administrasi kepegawaian

18. Membna staf sekolah dalam melaksanakan administrasi keuangan

19. Membina staf sekolah dalam melaksanakan administrasi sarana pendidikan

20. Membina staf sekolah dalam melaksanakan administrasi kurikulum

21. Menilai kinerja kepala sekolah dalam melaksanakan fungsi-fungsi kepeminpinan

22. Menilai kinerja staf sekolah dalam melaksanakan administrasi sekolah

23. Menilai pelaksanaan standar nasional pendidikan di sekolah

24. Memantau pelaksanaan ujian nasional di sekolah

***** Sumber: Identifikasi Masalah Kepengawasan, Ditjen PMPTK Depdiknas, 2008

Categories: Serba serbi dunia pendidikan | Tinggalkan komentar

Hasil UN Ulang yang mengejutkan.


Siapa yang tidak senang siswanya lulus 100% ? Tentu saja menjadi impian semua sekolah dan guru. Hasil UN susulan sudah di umumkan, dan murid2ku lulus 100 %. Senang, ya sudah pasti. Tapi tidak dapat dipungkiri, jika dicermati ada kegundahan di hati kami. Masa’ iya anak2 yang sebenarnya gak mampu tapi bisa lulus dengan nilai mengagumkan, tapi anak yang kita tahu memiliki kompetensi yang baik dalam 4 pelajaran UN, nilainya hanya pas2an.

Yang langsung lulus, memang umumnya anak yang memiliki kemampuan. Selebihnya adalah anak yang pas2an. Sementara mereka yang tidak lulus kemudian diberi kesempatan untuk ujian ulang, ternyata nilai mereka jauh lebih tinggi dari mereka yang lulus tanpa mengulang. Hasil UN mereka dari ujian ulang kok jadi menjulang, sehingga lebih banyak peluang untuk di terima di negeri.

Apakah mereka yang lulus pertama bisa dikatakan lulus murni dan mereka yang lulus pada ujian ulang nilainya sudah dikatrol sedemikian rupa ? Jika demikian menjadi sangat tidak adil, karena hasil UN yang lulus tanpa mengulang nilainya lebih kecil, Banyak diantaranya yang tak terjaring masuk ke sekolah negeri, padahal banyak diantara mereka yang sebenarnya pintar. Tapi yang ujian ulang justru banyak yang diterima di negeri. Apakah yang ujian ulang ini mendapatkan nilai konversi atau katrolan? Padahal kita tahu hasil yang diperoleh tidak sepadan dengan kenyataan. Sayangnya guru tidak terlibat dalam hasil kelulusan UN, sepenuhnya menjadi wewenang negara.

Kasihan anak-anak pintar yang lulus bukan karna mengulang, nilainya jadi relatif lebih kecil dibanding anak-anak yang mengikuti ujian ulang. Semoga kelak mereka sukses dimananpun mereka melanjutkan pendidikannya,  Amiin…

Salam hangat & Semangat

Jakarta, 2 Juni 2010

Etty Lismiati

Categories: Serba serbi dunia pendidikan | Tag: , , , , , | Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: