Mata Pelajaran TIK di SMP ada lagi ?

Tanggal 24 Desember 2014 yang lalu, perwakilan guru-guru TIK dibawah koordinasi Wijaya Kusumah, dikenal dgn panggilan Om Jay, menemui mendikbud Anis Baswedan. Kegundahan yang tersirat ini cukup beralasan setelah mendikbud sebelumnya, M. Nuh menginstruksikan implementasi kurukulum 2013 (kurtilas) dijalankan di semua sekolah pada tahun pelajaran 2014-2015 bulan juli lalu. Hilangnya  mata pelajaran TIK dalam struktur kurikulum, menyisakan masalah baru yang berkelanjutan. Meskipun pelatihan-pelatihan intensif sejak 2 tahun lalu terus dilakukan, banyak guru dikatakan belum siap.  Benarkah demikian ?

Keterlambatan buku dan berbagai hal teknis lainnya pun menjadi sorotan. Berita yang kemudian menguak adalah kelahiran kurtilas dinyatakan prematur. Penerapannya  terkesan buru-buru seolah dipaksakan. Begitulah ulasan yg mengemuka dari berbagai media yg makin ramai tak lama setelah pergantian tambuk pimpinan di kementrian pendidikan.

Ketidaksiapan guru, munculnya masalah teknis dan non teknis di dilapangan,  menjadi landasan keputusan mendikbud Anis Baswedan. Kemudian mengambil langkah penghentian kurikulum 2013 di tengah jalan. Ada apa gerangan? Benarkah murni semata-mata untuk perbaikan dunia pendidikan ?

Diterapkannya kembali kurikulum 2006 tentu saja menjadi momentum bagus untuk meneruskan lagi perjuangan sebagian besar teman-teman guru TIK. Harapannya, mata pelajaran ini tetap ada dalam struktur kurikulum. Bahkan sempat ada usulan mengembalikan lagi TIK dengan menghapus mata pelajaran (mapel) ketrampilan. Apaķah wacana itu sudah tepat untuk memperbaiki mutu pendidikan?

Tanpa mengurangi rasa simpati saya pada tuntutan teman-teman guru TIK,  menghapus mapel ketrampilan menurut hemat saya tidaklah tepat.  Ketrampilan justru sangat penting. Pada mata pelajaran inilah peserta didik diberi kesempatan seluas-luasnya mengekspresikan diri melalui sebuah hasil karya. Keterampilan jangan pula diartikan secara sempit. Bukan hanya terbatas pada prakarya kerajinan tangan, tata boga dan jahit menjahit. Keterampilan selayaknya dimaknai lebih luas, termasuk ketrampilan berpikir.

Andai TIK dimasukkan ke dalam mata pelajaran ketrampilan, barangkali kegalauan guru-guru TIK ini tak akan muncul karena harus mengajarkan prakarya ýang bukan bidangnya. TIK mestinya tetap diajarkan, sebagai bagian dari mapel ketrampilan. Untuk itu perlu adanya penyesuaian materi yang relevan dengan kebutuhan saat ini dan dimasa yang akan datang. Termasuk perubahan kompetensi yang akan dicapai.

Sejauh ini mapel TIK disekolah lebih terfokus pada bagaimana menggunakan, bukan bagaimana menciptakan.  Di awal penerapan kur2006 yang lalu, saya pernah diminta mengajar TIK menggantikan guru yang sementara cuti, hanya karna saat itu saya dianggap bisa menggunakan komputer. Bidang saya sendiri adalah Fisika, dan mengajar IPA di SMP. Hingga saat ini, guru-guru TIK ditempat saya mengajar bukan berasal dari latar belakang Teknik Informatika. Saat itu saya harus mampu mentransfer apa yang saya tahu, meskipun baru ala kadarnya. Berpacu dengan perkembangan arus informasi dan teknologi yang melaju demikian cepat.

Gagasan menyusun kembali materi TIK, selayaknya mendapat apresiasi dan segera ditindak lanjuti. Dengan merubah sasaran kompetensi mata pelajaran TIK, yang merangsang daya cipta dan kreasi siswa di bidang komputer. Diharapkan siswa kita tidak hanya menjadi pengguna produk, tapi mampu membuat produk. Untuk tingkat SMP, salah satunya mungkin ketrampilan membuat animasi, desain grafis dan sejenisnya. Bahkan kemampuan menciptakan games menarik dan berbagai aplikasinya untuk tingkat selanjutnya. Kurikulum yang tepat, menguak potensi yang ada pada siswa. Sudah terbukti siswa kita memiliki kemampuan akademis yang tidak kalah dengan anak-anak dari negara maju seperti, Korea , China dan Jepang.

Dalam kurtilas, terintegrasinya TIK kedalam setiap mata pelajaran, sudah menjadi suatu kebutuhan. Perkembangan teknologi memaksa guru untuk tidak kalah cepat dengan siswanya dalam menyerap informasi. Siswa bahkan dapat lebih terampil menggunakan berbagai aplikasi. Ini pun sudah membuahkan persoalan baru. Guru-guru TIK yg diharapkan terfusi sebagai guru ketrampilan belum mendapatkan jalan keluar yang pas. Peleburannya butuh persiapan matang. Diperlukan pelatihan intensif yang  menyeluruh, menjangkau semua guru. Tidak bisa asal tunjuk seperti yang lalu. Atau terpaksa harus mengajar mata pelajaran lain agar dapat memenuhi kuota 24 jam perminggu. Hal inilah yang nampaknya belum disiapkan secara matang.  Termasuk sistim penilaian yang masih rumit dan tidak efektif

Sebelum instruksi kurtilas diterapkan semua sekolah di Indonesia, keberadaan guru TIK mestinya sudah memiliki solusi yang tepat. Pentingnya mapel TIK, upaya mendesak pemangku kebijakan saat ini agar segera merevisi kurikulum pun berkobar lagi. Memang inilah salah satu warisan persoalan yang harus dibenahi Anis sebagai pengganti mendikbud sebelumnya.

Kurtilas memang belum sempurna, perlu banyak pelatihan untuk pengembangan SDM.  Kurikulum apapun namanya, sebagai guru kita dituntut untuk mampu mengolah, meracik dan menyajikan materi pelajaran dalam kemasan menarik. Untuk mengembangkan materi ajar sesuai tema yang ada dalam kurtilas, sangat dibutuhkan pelatihan  intensif bagi pengembangan SDM guru. Sayang sekali pelatihan yang sedang berjalan harus dihentikan…. Sekolah yang belum mendapat giliran kunjungan untuk memperoleh pendampingan semoga masih bisa diteruskan…

Apapun kurikulumnya penguasaan metoda dan model pembelajaran sangat dibutuhkan untuk mengembangkan potensi dan kratifitas siswa.

Proses pembuatan lampu hias dari gulungan koran bekas

Proses pembuatan lampu hias dari gulungan koran bekas

IMG-20141231-WA0011

Kotak tissu dari gulungan koran bekas (foto by : ettylist)

Kotak tissu dari gulungan koran bekas (foto by : ettylist)

IMG-20141231-WA0007

Hiasan dari tanah liat ini nampak menarik setelah diberi cat. Semarak dengan warna-warni untuk kebebasan mereka berekspresi dalam seni.

Hiasan dari tanah liat ini nampak menarik setelah diberi cat. Semarak dengan warna-warni untuk kebebasan mereka berekspresi dalam seni.

Hiasan dari tanah liat

Hiasan dari tanah liat

Keranjang hias

Categories: Serba serbi dunia pendidikan | Tags: , , | 1 Komentar

Navigasi pos

One thought on “Mata Pelajaran TIK di SMP ada lagi ?

  1. herry soesiyanto

    TIK itu mata pelajara Teknologi Ilmu Komputer, ya..

    Suka

Tulislah tanggapan anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: