Mesjid dan Mall

Banyak Mall di Jakarta, tempat sholatnya hanya menempati sebuah ruang kecil di parkiran basement dengan perlengkapan seadanya. Kontras dengan kemegahan bangunan mall yang indah. Bahkan ada yang hanya berupa ruang sempit di dekat pusat instalasi  pendingin ruangan, yang terletak di salah satu sudut di dalam area parkir mobil. Bisa dibayangkan, panasnya berada di mushola kecil itu tanpa AC .

Ventilasi yang ada di dalam ruangan pun tidak cukup memberi kenyamanan.   Sebuah area parkir basement, udara yang bersliweran disana kan tidak sehat. Dilangit-langit ruangan, suara kipas angin gantung yang bunyinya sudah berderit  pun ikut bersaing dengan deru AC sentral yang tak jauh dari mushola. Saya jadi ingat dengan kulkas di rumah ibu ketika kecil. Suatu kali saya menggantungkan kaos kaki basah di belakang kulkas  supaya cepat kering. Ini membuat ibu saya marah. Padahal hangatnya ruang  disekitar kulkas cukup untuk mengeringkan handuk lembab atau pun kaos kaki basah ketika matahari sedang malas memberikan kehangatan. Itu baru kulkas. Jadi bisa dibayangin deh, tidak nyamannya berada di dekat instalasi AC sebuah mall. Belum lagi perlengkapan sholatnya, mukena yang sudah berjamur, dekil, bau dan kotor.Sholat di situ jadi tidak khusu’ doong… Rasanya  mau cepat selesai saja karena gerah.

Kondisi semacam ini saya liat juga dibeberapa mall atau pusat perbelanjaan lainnya di Jakarta, dari yang alakadarnya hingga yang agak parah. Pengamatan saya hanya pada pusat-pusat perbelanjaan saja, bukan gedung-gedung perkantoran yang berderet megah di jalan-jalan protokol Jakarta. Mestinya  rancang bangun sebuah gedung harus bisa memfasilitasi kebutuhan rohani orang-orang yang beraktifitas disitu setiap hari. Minimal disediakan satu area khusus untuk mesjid. Aneh sekali jika sebuah mall besar, mushola saja tidak ada, sementara orang-orang yang bekerja di gedung itu mayoritas muslim. Kalaupun sebuah mesjid tidak dapat dibangun karena terbatasnya lahan, pengelola gedung sebaiknya memberikan satu area khusus yang juga memberi kenyaman yang sama dengan bagian lain di gedung ini.  Yeaaah…setidaknya, mushola jangan berada di tempat yang “nyelip” dan kotorlah. Toilet saja bisa indah, kok tempat untuk ibadah tidak ?

Beberapa memang cukup baik. Saya sempat terkesan dengan pengelolaan mesjid salah satu pusat perbelanjaan di bilangan Jakarta Pusat, ITC Cempaka Mas. Pusat perbelanjaan yang cukup besar dan luas ini memiliki mesjid yang lumayan nyaman. Letaknya strategis, berada di lantai 2  diseberang pintu masuk sebelah timur. Yang membuat saya memberi  jempol untuk pengelola mesjid ini adalah perlengkapan sholat yang ada di dalamnya, terutama fasilitas untuk wanita. Mukena-mukenanya banyak, wangi dan tergantung rapi. Setiap kali saya sholat disana, nyaris tak pernah saya liat  ada mukena yang kotor dan bau. Apalagi sampai berjamur dibagian yang biasanya menempel  dibagian muka. Pengunjung yang mau sholat, dapat meminjam mukena itu dan mengambil sendiri dengan mudah. Setelah selesai tinggal menggantungnya lagi menggunakan hanger yang banyak tersedia. Jika tidak disediakan gantungan, mukena  yang lembab terkena air wudhu, tentu saja akan berjamur kalau dilipat apalagi ditumpuk sekenanya. Di pojok dekat mukena-mukena yang tergantung itu terdapat  bak plastik ukuran sedang tempat meletakkan mukena kotor. Jika pengguna  mendapati mukena terlihat  kotor, tinggal dimasukkan saja ke dalamnya. Begitulah tulisan yang terbaca di sana.  Ternyata, setiap hari ada petugas yang mengambilnya untuk di cuci. Bagus bukan ?

Nah, saya harap beginilah pusat-pusat perbelanjaan mestinya. … Kenyamanan buat pengunjung jangan hanya pada fasilitas lahir semata, tapi fasilitas bagi kebutuhan bathin juga. Harus ada keseimbangan, terlebih bagi karyawannya. Bekerja  adalah ibadah. Bukankah kenyamanan ini bisa menjadi sesuatu yang indah?

Jakarta, 17 Mei 2012

Salam hangat & Semangat

Etty Lismiati

Categories: Cakrawala | Tags: , , | 4 Komentar

Navigasi pos

4 thoughts on “Mesjid dan Mall

  1. Suatu waktu, sebagai pedagang saya menawarkan mukena kepada seorang sahabat. Sejawat sesama Jurnalis, awalnya saya tawari mukena yang harganya relatif murah. Karena waktu itu kami memang mukena murah.

    Ia MARAH, “kenapa kamu tidak tawarkan MUKENA DISTRO aja! saya sanggup kok membelinya. Meski saya tidak cantik tapi saya tidak ingin kurang aja para TUHAN, giliran kerja pakaiannya bagus-bagus dan harga ratusan ribu. giliran menghadap pada TUHAN mukenanya harga 30rb-an”

    Sayapun mati kutu.

    Suka

  2. Betul sekali, Mbak. Banyak pusat perbelanjaan besar hanya menyediakan ruang sepetak buat sholat sementara pengunjung yang datang di tempat itu harus mengantre untuk melaksanakan sholat. Barangkali pemilik mall lupa bahwa tempat bisnisnya itu didirikan di negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.
    🙂 Salam,

    Mochammad
    http://mochammad4s.wordpress.com
    http://piguranyapakuban.deviantart.com

    Suka

    • Yeaah, begitulah. tentu saja kita berharap pengelola gedung mau memikirkan kebutuhan rohani para karyawannya. karena mereka yang sehari-harinya ada di sana. Ladang ibadahnya melalui bekerja. Terima kasih, sudah mampir di blog ini.

      Suka

Tulislah tanggapan anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: