Pesona Danau di Ranah Minangkabau (Bagian 2: Danau Maninjau)

PLTA Maninjau

Mau keliling Danau ? Ada perahu yang bisa di sewa di situ.

PLTA Maninjau

Danau Maninjau berada di kecamatan Tanjung Raya Kabupaten Agam, adalah type danau tektonik yang berada pada ketinggian 461,5 meter dibawah permukaan laut. Dengan luas sekitar 96 km2, keberadaan danau ini telah banyak memberikan kontribusi sebagai sumber penggerak perekonomian masyarakat setempat. Panorama yang mempesona, menjadikannya sebagai salah satu andalan devisa di sektor pariwisata.

Gambar ini di ambil dari atas perahu yang kami sewa untuk keliling danau dan mendekati pulau-pulau kecil disekitar danau.

Di pinggir dermaga, nampak perahu-perahu yang siap mengantar wisatawan keliling danau. Pada musim liburan, wisatawan bahkan harus menunggu giliran untuk mendapatkan perahu yang bisa membawa mereka berkeliling danau. (photo by : Ettylist))

 Dengan kedalaman danau hingga mencapai 165 meter, memungkinkan dibagunnya PLTA di salah satu bagian danau, tepatnya di Nagari Jorong Muko-Muka kecamatan Tanjung Raya ini. PLTA Maninjau telah memberikan pasokaan sumber energi listrik berkapasitas 68 MW hingga ke propinsi tetangganya,  Jambi dan Riau. Hanya saja saat ini berbagai aktifitas sekitar danau telah mengakibatkan turunnya debit air sehingga mempengaruhi kapasitas maksimum PLTA. Akibatnya PLN terpaksa melakukan langkah pemadaman listrik bergilir pada wilayah-wilayah yang menerima suplay energi listrik dari PLTA Maninjau ini.

Danau yang telah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat disekitarnya ini perlu dijaga keseimbangannya. Dengan melibatkan para akademisi dibidangnya, edukasi yang efektif dan regulasi yang mencerminkan kepedulian pemerintah terhadap pelestarian alam dan lingkungan, maka keseimbangan ekosistim danau akan tetap terjaga.(foto by: ettylist)

Nah, dengan dibangunnya PLTA ini saja dapat kita perkirakan betapa pentingnya keberadaan danau bagi penghidupan masyarakatnya. Mulai dari perikanan, kegiatan wisata, irigasi, dan lain sebagainya. Tak dapat dihindari, multifungsinya Danau Maninjau memberikan ketergantungan ekomonis langsung maupun tidak langsung bagi masyarakatnya. Pengembanganpariwisata sekitar danau perlu penanganan lintas sektor, untuk mengendalikan eksploitasi danau yang berakibat terganggunya keseimbangan alam dan ekosistim.

Pariwisata Maninjau

Jika kita menuju lokasi danau dari arah kota Bukit Tinggi, maka jarak tempuhnya sekitar 36 km. Pesona alam disepanjang jalan menuju lokasi wisata ini bukan main indahnya. Saya jamin, setiap wisatawan yang datang ke tempat ini pasti setuju pendapat ini.

Perjalanan kesana mengharuskan kita melewati tikungan tajam sebanyak 44 kali, melalui Puncak Lawang dengan panorama yang indah sekali. Tikungan ini menjadi objek wisata yang dikenal dengan “KELOK AMPEK PULUAH AMPEK”. Sebaiknya anda jangan menguji ketrampilan mengemudi dilokasi ini, serahkan saja pada mereka yang sudah sering bolak-balik ditempat ini atau pada mereka yang ketrampilan megemudinya sudah teruji. Lebih baik nikmati saja keindahan alamnya, dan biarkan pengemudi berkonsentrasi. Mengajak pengemudi ngobrol, woow.. apalagi. Jurang-jurangnya lumayan, booo… !

Danau Maninjau dari lokasi wisata "Ambun Pagi"

Untuk dapat menikmati keindahan Danau Maninjau dari sisi lain, kita dapat berhenti sejenak di objek wisata “Ambun Pagi”. Apalagi jika berada di Puncak Lawang, sebuah objek wisata lain dengan pemandangan Danau Maninjau di kejauhan, membuat pesona dan keindahannya kian mengental.

Berada di Puncak Lawang, saya sempat memperhatikan ekspresi beberapa wisatawan di tempat itu.Berdecak kagum pada hamparan danau di kejauhan, dengan keindahan alamnya yang menakjubkan. Seorang diantaranya hanya berucap, ‘ckc..ckc..ck… gilllaaa…  Sebuah ekspresi yang saya tahu benar maksudnya, persis ketika saya pertama kali berada di tempat ini belasan tahun lalu.

Danau Maninjau di lihat dari Puncak Lawang

Sebagian dari jalan berliku yang terdiri dari 44 tikungan terjal dalam perjalanan menurun menuju danau.

Jalan menuju danau setelah melewati kelok 44

Disekitar danau kita juga akan menemui fasilitas wisata umumnya seperti hotel dan restoran.

Penunjuk jalan pada salah satu tikungan tajam yang sempat saya ambil gambarnya dari atas kendaraan. Ada 44 buah tanda seperti ini disetiap tikungan tajam dan terjal. Selain tanda ini, ada juga rambu-rambu jalan dilengkapi dengan cermin cembung untuk membantu para pengemudi melihat kendaraan lain dari arah berlawanan.

Setelah melewati kelok 44 kita masih disuguhi pemandangan alam disekitar danau, melewati perkampungan penduduk setempat yang menjual penganan kecil hasil tangkapan mereka di sekitar danau. Pepes ikan, lokan (sejenis kerang kecil), atau penganan khas lain.

Sebagaimana daerah wisata, kita juga dapat menemukan fasilitas wisata umumnya disepanjang pesisir danau, seperti hotel dan restoran.

Dalam perjalanan ini saya sempat mengambil sebuah gambar bangunan yang sepertinya sering saya liat digunakan sebagai icon untuk pariwisata Danau Maninjau. Meski gambar yang saya bidik kurang memuaskan, tapi saya beruntung menemukan rumah itu dalam perjalanan dipesisir danau.

Nan Kuriak Kundi. Nan Merah Sago. Nan Baiak Budi. Nan Indah Baso. Salah satu kearifan lokal yang tertulis dan terpampang di depan salah satu rumah di pinggir danau Maninjau ini.

Rumah ini nampak berbeda dari rumah-rumah lain yang saya temui di sepanjang pesisir danau. Banyak rumah dengan arsitektur khas Minagkabau disekitar sini, namun rumah ini memiliki nuansa lain.  Meskipun nampaknya kurang terawat, ciri keasriannya masih terjaga. Menyatu dengan panorama indah disekelilingnya. Mungkin sebelumnya adalah sebuah restoran atau sebuah hotel yang memang banyak bertebaran disekitarr danau. Ketika kami melewatinya dan mengambil gambar ini, sepertinya aktifitasnya sudah tidak ada lagi.

Yang menarik dari rumah ini adalah sebuah tulisan yang terpampang disana. Karena saya mengambil gambar ini dari atas kendaraan, jadi saya baru tahu setelah gambarnya di-zoom camera. Begini bunyi tulisannya : Nan Kuriak Kundi.Nan Merah Sago. Nan Baiak Budi. Nan Indah Baso. Artinya kalo diterjemahkan kira-kira begini : Yang berbintik itu Kundi.(sayangnya saya gak tahu kundi itu apa). Yang merah itu gula aren. Yang baik itu Budi Pekerti. Yang indah adalah tata krama berbahasa. Ini adalah kalimat bijak yang lahir dari sebuah kearifan lokal. Bagaimana pemahaman dan aplikasinya bagi sendi-sendi kehidupan masyarakat Minang sendiri ?

Legenda Danau Maninjau

Sebagaimana danau-danau yang ada di Indonesia, asal muasal nama Danau Maninjau pun tak lepas dari legenda. Masyarakat setempat mengenalnya dengan kisah Bujang Sembilan.

Menurut cerita, Danau Maninjau berasal dari letusan gunung berapi Tinjau yang di puncaknya terdapat sebuah kawah. Letusan tersebut terjadi atas doa sepasang kekasih yang difitnah telah melakukan hal-hal tak pantas yang membuat masyarakat disekitar gunung marah, lalu mengarak mereka dan menceburkannya ke kawah. Sebelum diterjunkan ke kawah, mereka diberi kesempatan berbicara. Namun yang keluar dari mulut mereka adalah doa, “Ya Tuhan! Kabulkan doa kami. Jika kami memang benar-benar bersalah, leburkanlah tubuh kami dalam kawah yang panas ini. Tapi jika kami tidak bersalah, letuskanlah gunung ini dan kutuklah Bujang Sembilan menjadi ikan!”

Karena sepasang kekasih ini memang tak bersalah, maka sesaat setelah doa terucap, terdengarlah gemuruh dan getaran dahsyat dari letusan gunung berapi Tinjau. Kawahnya yang luas ini pun akhirnya membentuk kubangan danau. Danau inilah yang sekarang dikenal dengan nama Danau Maninjau. Ikan-ikan yang hidup di Danau Maninjau ini menurut legenda adalah jelmaan Bujang Sembilan,yaitu 9 bersaudara yang salah satunya telah melakukan fitnah karena dendam. Nama-nama Bujang Sembilan itu pun kemudian diabadikan menjadi nama-nama nagari disekitar danau.

Yaaah, begitulah cerita yang pernah saya dengar ketika kecil. Sebagaimana sebuah cerita dengan label legenda, maka ia berkembang di masyarakat secara turun temurun dalam berbagai versi. Kebenaran cerita menjadi tak penting lagi, karena ada pesan moral yang penting di sini. Diberbagai masyarakat tradisional Indonesia pada jaman dulu, mungkin inilah cara efektif untuk memberi nasihat. Cerita-cerita legenda itu pada akhirnya memperkaya khasanah budaya bangsa di jaman ini.

Area Wisata Bukit Lawang

Birunya danau

Menunggu perahu yang akan membawa kami berkeliling danau....

Jakarta, 2 Januari 2012

Salam Hangat dan Semangat🙂

Etty Lismiati

Categories: Cakrawala | Tags: , , | 4 Komentar

Navigasi pos

4 thoughts on “Pesona Danau di Ranah Minangkabau (Bagian 2: Danau Maninjau)

  1. postingannya keren mbak etty..
    tak bisa diungkapkan dgn kata2😀
    keren abiiss…

    Suka

    • Terima kasih pujiannya, semoga bisa menjadi motivasi saya untuk terus menulis hgg benar2 keren abiss seperti yg anda bilang. Makasih sekali lg sudah mampir.

      Suka

  2. Tulisannya bagus… Tulisan tentang keindahan danau Maninjau ini dimuat di http://www.kliksumbar.com dengan menyebutkan Ettylist’s Blog sebagai penulisnya.. Trmkasih

    Suka

Tulislah tanggapan anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: