LAGI-LAGI TAURAN !!!

imagesSegerombolan anak SMP berjibaku dengan saling melempar batu. Di ujung lain dengan celana jangkis berwarna biru seorang anak mengayun-ayunkan ikat pinggang tak kalah seru. Bak jagoan neon, tali pinggang yang ujungnya dikaitkan gir, membuat orang-orang yang kebetulan melintas di jalan itu menjadi ngilu. Jika hinggap di kepala salah satu bocah-bocah itu, bocor sudah tentu.

Hmmm….. ueedan, beberapa anak yang terlibat, sehari-harinya keliatan manis dan penurut, kenapa nampak liar ketika bergerombol dalam tauran di jalanan.  Seperti setan-setan kecil yang mengintai untuk mencelakai diri sendiri maupun orang lain, tanpa tahu penyebab maupun  tujuannnya. Ada apa dengan mereka ini …? Bahkan yang lebih tragis lagi, korban nyawa sudah banyak bergeimpangan dari tahun ke tahun. Kematian yang sia-sia. Harus ada upaya untuk memutus mata rantai penyimpangan prilaku mengerikan ini. Tradisi babar ini tidak boleh berlanjut lagi…

ilustrasi

ilustrasi

Ini persoalan bersama, orang tua paling utama… Masalahnya masih saja ada orang tua yang menganggap kalo sudah menyerahkan anak ke sekolah berarti semua persoalan kelakuan anak didalam maupun diluar sekolah menjadi tanggung jawab guru atau pihak sekolah. Akibatnya, ketika masyarakat melihat segerombolan siswa berprilaku tidak semestinya, banyak pihak mengarahkan tatapan mata dan telunjuknya ke guru.

Penanganan prilaku anak tidak bisa dilihat sebagaimana yang tampak dari luar. Akar persoalannya tidak sesederhana itu. Penyimpangan timbul akibat akumulasi dari berbagai ketidak beresan sistim pendidikan dan gempuran lingkungan yang tidak kondusif. Termasuk peran berbagai media yang menyuguhkan tayangan yang jauh dari nilai2 pendidikan. Kekerasan yang dipertontonkan, dan kecemburuan social,  terakumulasi dalam  luapan kemarahan yang terekspresi dalam tingkah laku liar. Anak-anak ini tidak mendapat contoh baik dari lingkungannya. Sebagian mungkin cuma ikut-ikutan, tanpa tau siapa lawan mereka dan untuk tujuan apa. Media pun ikut berperan memberi stimulus untuk berbagai penyimpangan dan norma.

Menjadi PR besar guru, orang tua dan pemerintah saat ini. Bagaimana sistim pendidikan di sekolah menjadi kondusif bagi katup penyalur kelebihan energy generasi muda ini. Bagaimana peran orang tua di rumah mendampingi mereka berproses diusianya yang kritis dalam mencari eksistensi diri……..

Jakarta, November 2011

Salam Hangat dan Semangat

Etty Lismiati

Categories: Cakrawala, Serba serbi dunia pendidikan | Tags: | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tulislah tanggapan anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: