PEMBANTU

Bisa dibayangin deh gimana repotnya gak ada pembantu untuk ibu-ibu  yang bekerja maupun bagi mereka yang memiliki seabreg aktifitas  di luar rumah. Apalagi yang memang sudah terbiasa menyerahkan segala urusan tetek bengek rumah tangga kepada pembantu hingga puluhan tahun.  Kalo anak sudah besar-besar mungkin gak terlalu jadi kendala. Saya inget dulu waktu harus ‘nenteng-nenteng’ anak untuk ngajar ketika si kecil masih balita. Meskipun pinpinan maupun temen-temen di sekolah gak masalah, tapi rasanya gimanaaa gitu ya.. Sementara belum dapat pengganti, kadang malah, anak sampe dititip dulu ke tetangga karena keluarga dekat lokasinya agak jauh sie. Kondisi begini memang bisa ganggu kinerja  kita.

Cari pengganti juga gak gampang, harus selektif, karna terkait pada perkembangan anak yang akan menghabiskan banyak waktu bersamanya dirumah.  Jadi mau gak mau saya siasati supaya gak bergantung sepenuhnya pada pembantu sejak awal, dengan melibatkan anggota keluarga untuk urusan rumah tangga, minimal bisa membantu hal-hal sederhana yang bisa mereka lakukan untuk dirinya sendiri . Sebagai bagian dari proses mengembangkan nilai-nilai tanggung jawab, tidak bijaksana jika kita membiarkan si kecil yang masih duduk di TK misalnya, benar-benar  tergantung sepenuhnya pada pengasuhnya. Mulai melek di pagi hari hingga tidur di malam hari.  Lama-lama si kecil yang kita sayangi ini akan tumbuh menjadi seorang anak yang manja dan tidak mandiri.

Umumnya kita  gak cukup  sabar melihat  si kecil melakukan kesalahan dalam memakai kaos kakinya sendiri misalnya. Atau ketika kita melihatnya sarapan dengan muka belepotan.  Jika sang ibu sedang repot juga, serta merta si ibu akan mengatakan, mbaak… tolong si adek mbak…

Apalagi jika suasana pagi  dirumah selalu menjadi sebuah  rutinitas yang dilakukan sambil tergesa oleh hampir semua anggota keluarga, sebelum masing-masing menuju ke tempat aktifitasnya.  Mungkin akan sering kita mendengar  teriakan dari sang ibu, ayo.. sayang,  cepat habiskan sarapanmu … ! ayoo…, cepat pake sepatu ! Ayo-ayo  melulu !

Kalo sudah begini,  betapa  sibuknya sang pembantu. Bisa-bisa segala hal urusan tetek bengek rumah tangga di handle oleh pembantu semuanya. Setiap anggota keluarga tergantung padanya, gak ibu, bapak dan anak-anaknya. Kalo si pembantu ini punya profil kalem, lembut sekaligus cekatan, ya mujurlah. Tapi kalo ditambah lagi, muda, ‘moleh’ ….? Woow, si ibu mungkin akan repot juga nantinya, Aha !  Serba salah ya.  Eh, tapi gak juga deeh, karena si ibu boleh jadi akan menerapkan aturan yang terdiri dari 2 pasal. Pasal 1: Majikan selalu benar. Pasal 2: Jika majikan salah, lihat pasal 1.  Biasalah, aturan rimba akan muncul ketika penguasa dzholim kalah pamor dari anak buah.

Para ibu biasanya  mengantisipasi ditinggal mudik para pembantu ini jauh-jauh hari sebelum Lebaran, bahkan sebelum Rhamadan.  Ada yang  sudah mulai belanja ke Tanah Abang padahal puasa  aja sekitar seminggu lagi datangya. Biasa deh, mborong  pakaian yang mungkin tidak sempat lagi jika dilakukan ketika puasa, apalagi setelah pembantu mudik. Alasannya masuk akal juga keliatannya, karena kalo belanja pada hari puasa, bisa-bisa puasanya jebol. Apalagi menjelang Lebaran, pasar pasti penuh sekali.  (By the way, Ssstt..kemaren aku dan beberapa teman ke Tanah Abang, beli baju buat di jual, ha..ha..ha…) Sebuah fenomena yang memang unik di Indonesia umumnya. Lebaran, mudik dan belanja,  sudah satu paket kayaknya !

Pembantu infal menjadi sebuah lahan tersendiri bagi sebagian pembantu yang sengaja tidak pulang kampung. Mereka tentu saja dibayar lebih mahal. Pekerjaan yang rupanya menjadi  ladang musiman yang cukup menggiurkan untuk mengais rejeki lebih banyak di hari lebaran. Menjelang dan minggu-minggu sesudah lebaran, biasanya masa panen bagi biro penyalur tenaga PRT  yang banyak bertebaran di sepanjang jalan R. Suprapto, Cempaka Putih. Kita memang harus ekstra hati-hati, karena banyak peluang penipuan dengan modus operandi sebagai PRT.  Di negara kita pembantu memang relatif banyak (sampe di ekspor segala malah!). Tapi apa pun yg diharapkan dari seorang ‘asisten’ di rumah, kejujuran menjadi point utama.. Buat saya sih gak masalah besar kalo orang kepercayaan ini rada ‘lemot’, meskipun mungkin ngeselin juga tentunya. Pembantu yang rada ‘Oneng” ini masih bisa di ajarin kok supaya jadi lebih pinter dan gak lemot lagi. Asal dia memiliki nilai-nilai kejujuran dan mau belajar, itu sudah syarat mutlak yang gak bisa di tawar. Sayangnya,  yang memiliki karakter seperti ini  agak susah dicari jaman sekarang.  Pembantu yang  punya dedikasi dan etos kerja tinggi, apalagi plus tanggung jawab ! Ha..ha… kumplit banget ! susah kaleee…  dan gak jadi pembantu tentunya.

Ada seorang teman di FB yang menulis komen tentang kejujuran begini, “untuk KEJUJURAN,,, kita lah sang pembentuknya, bukan orang lain. Kejujuran punya kesamaan dengan keburukan, kezoliman, kejahatan, ia sama-sama MENULAR…..”

Wah, bener  tuh. Saya setuju ! Kejujuran dibentuk melaui PENDIDIKAN.  Artinya, tidak hanya menjadi tanggung jawab  sebuah lembaga yang di kenal dengan nama sekolah secara formal. Tapi ia diperoleh melalui interaksi dalam keluarga di rumah dan lingkungannya. Dan Ibulah guru pertama bagi seorang anak.

Jakarta, 24 Juli 2011

Salam hangat dan Semangat

Etty Lismiati

Categories: Cakrawala | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tulislah tanggapan anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: