JUJUR vs CURANG

Membaca isi hati dan kegelisahan salah seorang keponakanku , Tami yang di tulis di blognya sendiri mengenai fenomena kecurangan dalam UN, memang menarik dan mengusik. Membangkitkan kembali harapanku bahwa masih banyak generasi penerus bangsa ini yang tetap memegang teguh nilai-nilai kejujuran ditengah derasnya arus degradasi dan pendangkalan nilai-nilai pendidikan. Sebagai seorang guru, saya pun terusik dengan kenyataan memalukan dunia pendidikan ini. Setelah sekian lama tak bertemu, dan tanpa kusadari keponakanku tumbuh dan berkembang menjadi sosok pribadi yang memiliki sikap. Dalam benakku sepertinya masih Tami kecil dengan wajah tirus dan pendiam. Lama tidak bertemu, tahu-tahu dia sudah mahasiswa semester 3 di UGM. Tanpa terasa cepatnya waktu dan dia pun tumbuh dewasa dengan pola pikir yang cukup bijak dan matang. Karakter seperti ini yang saya harapkan masih tetap ada dan terus dikembangkan bagi semua siswa generasi penerus kita. Sayangnya, nilai-nilai kejujuran telah terkontaminasi oknum-oknum tak bertanggung jawab yang melibatkan siswa dalam arus degradasi ini.

Berita kecurangan UN dari tahun ketahun masih saja terjadi. Kenyataan yang tentu saja bikin kita miris dan sedih sekali. Kita tentu saja gelisah melihat fenomena ketidak adilan ada di depan mata. Mau dibawa kemana bangsa ini jika nilai-nilai kejujuran dipecundangi dengan cara yang amat mengusik nurani. Tapi percayalah, masih banyak orang-orang yang memiliki integritas,tanggung jawab, dan nurani, tetap konsisten mempertahankan tujuan hakiki dari sebuah proses pendidikan.

Alhamdulillah, di sekolah tempat saya mengajar, tidak ada pembodohan terstruktur yang amat memalukan ini. Saya bersyukur, tak pernah saya dengar dari rekan guru maupun pengelola sekolah ada niat mencari jalan pintas. Perolehan hasil UN memang tergolong rendah, tapi kami lebih menghargai hasil jerih payah ini yang diperoleh melalui proses belajar yang bermakna.  Kami prihatin dan terpukul dengan berita-berita yang berkembang di masyarakat akibat ulah segelintir oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Saya juga “mendengar” ada beberapa sekolah swasta yang memberikan contekan ke murid-muridnya demi prestise sekolah. Tentu saja sekolah “abal-abal” yang para pengelolanya tidak memiliki kemampuan dan kurang percaya diri. ‘Eksistensi semu’nya hanya bisa dilihat dari prosentasi kelulusan. Keadaan ini ditengarai juga dilakukan oleh beberapa oknum sekolah negeri. Saya katakan dugaan, karena saya hanya mendengar kasak kusuk di antara siswa tanpa memperoleh bukti yang kuat. Mendapatkan bukti untuk kasus seperti ini sepertinya agak sulit. Begitu juga dengan kabar yang memang sudah banyak diberitakan media, dari tahun ke tahun. Tapi saya meyakini memang ada perubahan tata nilai di dalam masyarakat kita berkaitan dengan fenomena contekan masal yang sudah mencoreng dunia pendidikan. Setelah UN berlangsung, isu-isu miring seputar penyelenggaraan UN memang sudah sering kali terjadi. Contekan masal hingga kebocoran soal masih saja terdengar tiap tahun. Sebuah kenyataan yang memang amat memprihatinkan.

Masih ingat kasus ibu Siami di Surabaya? Kasus berawal dari pengaduan putra Siami, yang bercerita kepada ibunya karena di suruh gurunya untuk memberikan contekan kepada teman-temannya saat Ujian Nasional. Putra Siami dikenal sebagai salah satu siswa pandai di SDN Gadel II Kecamatan Tandes, Surabaya. Tidak terima dengan keganjilan yang mesti dialami anaknya, bu Siami kemudian dengan polosnya melaporkan ke Kepala Sekolah dan Komite. Tapi ternyata laporannya tak mendapat tanggapan yang semestinya. Bisa jadi mereka saling menutupi. Merasa tidak mendapat respon yamg diharapkan, kasus ini akhirnya tercium publik dan ibu Siami pun menceritakan pengalaman ini ke salah satu stasiun radio. Lalu, kasus ini sampai ke telinga Walikota Surabaya, Tri Rismaharini. Setelah diproses, sanksi pun dijatuhkan pada pihak yang dinilai bertanggung jawab: Kepala sekolah dan dua orang guru. Namun apa yang dialami bu Siami ini menjadi amat tragis.

Ini Petikan beritanya :

“Sanksi pada tiga pendidik ini lantas memicu kemarahan wali murid. Mereka menilai Siami, dan keluarganya tak punya hati. Mencemarkan nama sekolah dan kampung. Setidaknya empat kali warga menggelar demonstrasi di depan rumahnya.
Puncaknya terjadi pada Kamis 9 Juni 2011. Lebih dari 100 warga Kampung Gadel Sari dan wali murid SDN Gadel II ‘menghakimi’ Siami dan keluarga. Mereka menuntut Siami meminta maaf.
Dengan tangis berlinang Siami telah meminta maaf. Namun warga belum puas. Mereka mengusir Siami dan keluarganya dari kampung.”Usir, usir!,” teriakan warga Gadel menggema di Balai RW 02 Kelurahan Gadel, Kecamatan Tandes, Surabaya.
Siami pun tambah menangis. Ia tak menyangka tetangga kampungnya setega itu mengusirnya. Aksi dorong-mendorong membuat jilbabnya nyaris terlepas. Tubuh Siami yang mungil, limbung. Ia harus dievakuasi agar luput dari kemarahan warga.” (di tulis : oleh Siwan di blog)

     

Sedih sekali mendengar kisah ini kan? Seorang anak SD mestinya mendapat penanaman nilai-nilai luhur tentang kejujuran dan rasa tanggung jawab yang merupakan modal dasar dari terbentuknya sosok pribadi yang memiliki integritas. Kita tahu, nilai-nilai ini memang harus ditanamkan sejak dini. Tapi dalam perkembangannya malah dikotori oleh situasi yang membuat anak jujur menjadi bingung. Sikap masyarakat yang malah menyalahkan bu Siami yang mereka anggap telah mencemarkan kampung. menurut saya justru telah menodai harkat kejujuran dan nilai-nilai dasar yang seharusnya dipupuk dan dikembangkan. Saya benar-benar gak ngerti, seharusnya mereka mendukung Siami yang ingin menguak kecurangan yang benar-benar telah menodai dunia pendidikan melalui kepolosan seorang anak. Saya pikir Bu Siami pantas mempertahankan nilai-nilai kejujuran yang selama ini sudah ia tanamkan kepada anaknya sejak dini. Apa jadinya sebuah bangsa yang tidak mengajarkan tata nilai ini bagi generasi penerusnya. Kisah Siami di Surabaya ini, memang marak diulas di berbagai media.

Yang membuat saya lebih miris lagi, melalui berbagai fenomena yang ada betapa merosotnya tata nilai yang berlaku di sebagian besar masyarakat kita. Jika tata nilai seperti ini terus berkembang, kita tinggal menunggu kehancuran bangsa ini, perlahan tapi pasti. . Seolah kejujuran yang dilakukan Siami adalah sebuah kejahatan. Menutup mata pada hal-hal minor pada penyelenggaraan UN dan menganggapnya seolah hal sepele, sama saja dengan meracuni tunas-tunas muda bangsa ke arah yang berbahaya. Bertolak belakang bagi tumbuh kembangnya pendidikan karakter yang belakangan dikumandangkan dan menjadi bagian dari kurikulum.

Nyontek masal yang terjadi di sebuah sekolah, tak terlepas dari sistim yang menciptakan peluang bagi tumbuhnya kecurangan demi kecurangan. Ditambah lagi salah satu penilaian kinerja kepala sekolah dilihat dari prosentasi kelulusan siswanya. Akibatnya, tiap sekolah memacu guru dan murid untuk mengejar target standar kelulusan tiap mata pelajaran yang di UN-kan. Pendalaman materi dilaksanakan jauh-jauh hari sebelum UN, kemudian lebih intensif lagi di bulan-bulan terakhir menjelang UN. Setiap hari mereka di ingatkan, bahwa UN semakin dekat seolah menghadapi hukum pancung. Seolah hasil akhir dari sebuah penyelenggaraan pendidikan hanya kemampuan kognitif semata, yang diwujudkan dalam angka-angka. Sekolah yang merasa tidak memiliki kemampuan untuk mengolah input (dalam hal ini siswa) yang bagus, terpancing untuk berbuat curang demi prestise sekolah, yang tentu saja berujung pada penilaian kinerja Kepala Sekolah. Jadi kesalahan terbesar bukan pada penyelenggaraan UN, tapi sistim dan oknum-oknum penyelenggaranya. Kepala Sekolah, guru dan masyarakat diharapkan memiliki kesamaan visi bahwa pendidikan adalah sebuah proses panjang yang tidak hanya berujung pada kompetensi akademik, tapi yang lebih penting lagi adalah membangun tunas bangsa yang berkarakter, dan berakhlak mulia. Penyikapan guru, orang tua dan masyarakat terhadap UN menjadi amat penting bagi psikologis anak. Sehingga anak tida perlu menjadi stress jika mendengar kata UN. Karena ujian adalah bagian dari proses hidup, yang harus diterima sewajarnya.

Jakarta, 1 Juli 2011
Salam Hangat & Semangat

Etty Lismiati

Special thanks untuk keponakan saya, Tami Sandyarani di Yogyakarta, yang sudah menginspirasi saya menulis catatan ini.

Categories: Serba serbi dunia pendidikan | Tags: , , , , , , , , , , , , | 4 Komentar

Navigasi pos

4 thoughts on “JUJUR vs CURANG

  1. marlina

    mbak tulisannya bagus…memang sungguh menyedihkan dunia pendidikan kita. tapi harapan masih ada…kita pasti bisa merubahnya

    Suka

  2. harus bagaimana lagi…kita sebagai tenaga pendidik yang harus mempersiapkan generasi-generasi yang akan datang…
    salam kenal…kita dapat saling berbagi atau sheering tentang pelajaran IPA khsusnya kelas VIII…dapat kunjungi blog saya yaitu hasyimbiologi-adnan.blogspot.com

    Suka

    • Terima kasih sudah berkunjung. Senang bisa sharing dengan sesama guru. Kita bisa saling berbagi, melengkapi dan memperkaya wawasan untuk ditransfer lagi ke murid2 di kelas.Blog ini masih banyak kurangnya. Banyak hal2 yang mesti diperbaiki di sana sini, dari sisi tampilan maupun content. Saya sudah mampir di blog anda, dan wweeeiihh… kereeennn….

      Suka

Tulislah tanggapan anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: