Angkutan masal yang nyaman, tapi tidak nyaman !

Dari tahun ke tahun, Jakarta masih saja berkutat soal kemacetan. Padahal katanya sudah diurus oleh akhlinya. Ingat slogannya ‘Bang Foke’ dulu, “Serahkan  Jakarta pada yang akhli….” Sepertinya Jakarta masih kerepotan juga bagaimana mengurangi kepadatan jalan, atau membuat sistim transportasi yang manusiawi dan nyaman. Kalau saja Pemda konsisten pada tujuan semula, Bus Way untuk mengurangi kemacetan, ya mestinya di buat nyaman dong. Pasti orang lebih suka mobil-mobil pribadinya tersimpan di garasi pada jam-jam sibuk setiap hari. Nyatanya, dari pada berdesakan didalam Bus Way yang tentu saja sangat tidak nyaman, orang lebih suka mengeluarkan mobil pribadi untuk ikut menyemuti jalan-jalan di DKI.  Maka, yaaa tetap macetlah yang terjadi.

Ketika jalur bus way di bangun, banyak pengguna mobil pribadi menggerutu karena  akan mengurangi jatah jalan di jalur cepat yang biasanya didominasi mereka.  Padahal, andai saja sasaran pengguna bus way adalah orang-orang yang biasa menggunakan mobil pribadi dalam mobilitasnya sehari-hari tentu saja akan sangat mengurangi kemacetan.  Untuk membuat bus way diminati golongan menengah  ini, maka sistim transportasi armadanya harus segera dibenahi. Buatlah  senyaman mungkin, tak ada penumpang yang berdesakan di dalam bus maupun halte-halte transit.  Terapkan aturan secara jelas dan konsiten bagi kendaraan lain yang masuk ke jalur Bus Way di jalur-jalur terlarang. Dengan bus yang nyaman, ditambah lagi jalur yang bebas hambatan,  berimbas pada waktu perjalanan yang lebih cepat. Maka jika  orang merasa lebih irit waktu (faktor waktu ini yang paling penting), lama kelamaan juga mereka yang menggunakan mobil pribadi iri dan kapok bawa mobil sendiri, lalu akan  memilih bus way sebagai sarana transportasinya sehari-hari.

Soal kenyamanan angkutan masal ini, sepertinya koridor 10 rute PGC-Tj.Priuk adalah rute yang paling parah. Sejak koridor 10 ini beroperasi, tak satu pun bus yang keliatan baru. Semuanya bekas, yang kadang-kadang ACnya juga mati. Sepertinya armada bus di koridor ini berasal dari koridor 1. Ditambah lagi waktu menunggu kedatangan bus yang lama, bahkan pernah hingga hampir satu jam. Ini diluar batas toleransi. Penumpang berjejalan di dalam bus maupun di halte, menjadi pemandangan sehari-hari pada jam sibuk di pagi dan sore hari.

Halte transit di depan RS UKI juga sangaaaat tidak memadai sebagai sebuah tempat transit.  Penumpang berbagai tujuan naik turun di halte sekecil itu. Masya Allah betapa sulitnya naik maupun turun dari bus pada jam-jam sibuk di pagi hari. Mestinya halte transit di UKI minimal sama luasnya dengan halte transit di Harmoni.

Keributan dan kemarahan penumpang pun kerap terjadi di halte sepanjang koridor ini, karena kesal menunggu bus yang lama dan harus berjejalan di dalam bus. Petugas yang membatasi orang untuk naik ke dalam bus yang sudah penuh, kadang kala jadi sasaran kemarahan penumpang yang memang sudah menunggu lama dan ingin segera sampai di tujuan. Bisa saya pahami kejengkelannya, mungkin dia terlambat sampai di tempat kerja yang resikonya gaji di potong atau kena teguran bosnya di kantor. Harus menunggu bus berikutnya yang gak tahu berapa lama lagi, jelas saja membuat orang jengkel dan marah.

Halte ini hanya memiliki 4 pintu, 2 pintu menuju ke arah utara dan 2 ke selatan. Penumpang dari berbagai jurusan / koridor naik dan turun melalui 2 pintu ini. Yang mestinya pintu ini menjadi pintu keberangkatan dan pintu penurunan penumpang, menjadi acak kadul ketika jam2 sibuk akibat penuhnya penumpang di halte yang tidak layak sebagai halte transit ini.Angkutan masal inilah yang menjadi kendaraan andalan saya untuk beraktifitas setiap hari. Untuk menghindari berbagai ketidak nyamanan akibat kemacetan dan armada bus di koridor 10 yang jumlahnya kurang memadai, saya mensiasatinya dengan berangkat lebih pagi, sehingga tidak harus berjejalan di halte transit di depan UKI. Sebagai seorang guru di sebuah sekolah negeri di bilangan Rawasari, yang sudah harus ada di sekolah sebelum jam 6.30 pagi, saya usahakan dengan bus pertama dari Pinang Ranti, sehingga sudah berada di halte UKI setidaknya sebelum jam 5.30. Lewat itu, maka penumbang dari dan ke berbagai jurusan akan begitu cepat memenuhi halte ini. Pengalaman tergencet di antara ratusan penumpang di halte itu sudah cukup membuat saya kapok.

Saya berharap sekali, Pemda khususnya manajemen Trans Jakarta sebagai pengelola layanan angkutan umum ini, segera memperbaiki hal-hal minor yang terjadi. Terutama di koridor 10 dan segera memperluas halte transit di depan UKI. Jika hal ini sampai berlarut-larut, maka upaya Pemda memberikan layanan angkutan yang lebih baik bagi masyarakat tidak akan efektif. Kemacetan tak akan berkurang. Jakarta yang memiliki transportasi masal yang manusiawi lama-lama hanya akan menjadi isapan jempol belaka, jauh tertinggal dari kota besar lain di negara-negara tetangga. Uff… kapan majunya…

Jakarta, 6 Juni 2011

Salam hangat,

Etty Lismiati

Categories: Cakrawala | 2 Komentar

Navigasi pos

2 thoughts on “Angkutan masal yang nyaman, tapi tidak nyaman !

  1. -Adri Rumbouw-

    Terima kasih bu, sudah berbagi..
    Salam kenal dari saya di Papua.

    Adri Rumbou
    adrirumbou@yahoo.com

    Suka

    • Wah, salam kenal kembali, Bung. Terima kasih juga atas apresiasinya, Sukses buat anda dan keluarga di sana.

      Suka

Tulislah tanggapan anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: