Mesjid

Di sebuah kompleks rencananya akan di bangun sebuah mesjid, tapi hingga 2 tahun belum dapat terealisasi, padahal lingkungan sekitarnya mayoritas muslim tergolong mampu secara ekonomi. Ini terlihat dari deretan rumah yang cukup bagus dan beberapa bisa dikatakan mewah. Karena sudah lebih 2 tahun belum dapat teralisasi, maka panitia pembangunan mesjid ini mencari bantuan ke Brunai Darusalam dan Arab Saudi. Mengapa terjadi ironi seperti ini ?

Berbeda dengan cerita di atas, di sebuah perkampungan kumuh …..berdiri sebuah mesjid yang bisa dikatakan cukup megah dan indah. Penduduk sekitar umumnya buruh berpenghasilan rendah, banyak anak putus sekolah. Kehidupan yang miskin membuat mesjid inipun kadang menjadi sasaran maling. Mulai dari sandal jepit, karpet, hingga instalasi listrik.

Dalam cerita lain, sebuah mesjid dibangun di atas tanah wakaf disebuah komplek perumahan kelas menengah di pinggiran kota. Umumnya kehidupan di komplek perumahan, maka pada siang hari terlihat sepi. Rata-rata penghuninya adalah karyawan di berbagai tempat di ibu kota yang harus berangkat pagi-pagi sekali untuk menghindari kemacetan yang sudah menjadi rutinitas sehari-hari. Selebihnya adalah kalangan professional dengan tingkat kesibukan dan mobilitas yang cukup tinggi. Maka tak heran, banyak rumah selalu terkunci. Kurangnya waktu untuk berinteraksi, bisa jadi diantara mereka ada yang tidak mengenal tetangga sama sekali, bahkan mungkin juga tidak pernah tahu berapa orang penghuni tetangga yang tinggal di depan rumahnya. Maka tak heran pula, pada siang hari mesjid ini pun tampak sepi. Untuk mengamankan property, mesjid ini tidak selalu terbuka setiap saat dan nampaknya lebih sering  terkunci.

Pernahkah kita mendengar atau melihat cerita yang senada dengan cerita di atas ? Ataukah salah satu dari cerita itu sebenarnya ada di lingkungan kita sendiri ? Bagaimana hakekat sesungguhnya sebuah mesjid dalam islam ? Bagaimana tanggapanmu ketika melihat pengerahan dana pembangunan mesjid dengan meminta-minta melalui pengeras suara di jalan-jalan, di bus dan angkutan umum ?

Wassalam,

Jakarta, 2 Juni 2011

Etty Lismiati

Categories: Cakrawala | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tulislah tanggapan anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: