Berbuat Baik Adalah KESEMPATAN !

Terinspirasi dari status FB teman saya, yang mendapatkan pertolongan tetangganya ketika mobilnya mengalami kempes di jalan disaat akan mengantar anaknya ke sekolah. Mengganti ban mobilnyanya, padahal tetangganya itu sedang dalam perjalanan ke kantor. Tentu saja sudah rapi, tapi masih mau menyempatkan diri untuk turun dan membantunya. Bahkan memberi tumpangan untuk anaknya yang searah dengan perjalanannya. Sebuah sikap yang mengesankan bukan ? Maka saya tulis catatan ini, karna yang muncul dibenak saya bagaimana sikap orang pada umumnya ketika melihat kesulitan orang lain ditengah kesibukannya sendiri ? Teman saya ini tinggal di Malaysia, tapi saya pikir pola umum kehidupan dikota besar tak banyak beda dengan kota2 besar lainnya di negara manapun .

Perbuatan baik akan berbuah baik! Baik dan buruk perbuatan orang akan berpulang ke diri sendiri. Jika berbuat baik tanpa pamrih maka akan dapat balasan serupa bahkan lebih. Balasan yang diterima bisa langsung ataupun tidak. Pengalaman yang ditulis teman ini, bukan hal kecil dimata saya. Menjadi berbeda karena tetangganya itu masih mau memikirkan orang lain dalam situasi apapun. Tentu saja dalam kehidupan jaman sekarang menjadi sesuatu yang mengesankan, terutama ditengah makin tipisnya rasa kepedulian orang di kota metropolitan. Bagaimana dengan di Jakarta ?

Kadang kala kita sering kali tak sempat lagi memikirkan orang lain, sibuk dengan urusan masing2. Boro2 memikirkan tetangga, berbagi waktu dengan keluarga saja seringkali harus menunggu adanya waktu yang tersisa. Padahal tak kan pernah ada. Apalagi jika yang kita lakukan selalu berorientasi pada diri sendiri .

Menyempatkan diri ditengah kesibukan untuk menolong orang lain, merupakan sebuah anugerah dan kesempatan (mestinya !). Tapi berapa banyak dari kita yang memandangnya sebagai kesempatan. Betapa banyak sebenarnya yang bisa kita lakukan untuk menolong orang. Banyak sebenarnya hal-hal kecil yang mestinya dapat kita lakukan. Bahkan termasuk yang tidak membutuhkan waktu banyak, namun sangat bermanfaat buat orang lain. Dari sinilah kita bisa mengamati betapa perbuatan sekecil apapun dapat berarti besar. Begitu juga hal besar yang dilakukan orang dapat saja tak ada artinya sama sekali.

Jangankan pertolongan seperti yang tetangga teman ini lakukan, memberi tempat duduk dalam bis yang penuh sesak saja, masih aja terselip ke engganan. Sementara kita masih cukup kuat dan sudah duduk dengan nyaman. Apalagi jika perjalanan jadi relatif lama karena macet panjang. Padahal dihadapan kita ada orang lain yang berdiri kepayahan. Seolah apes jika tahu2 dihadapan berdiri perempuan yang pantasnya diberikan tempat duduk. Kecuali kalo ceweqnya cantik, buru2 deh bangun biar di bilang gentleman. Sorry kalo ada yang pernah begitu,🙂

Membangun keperdulian kepada orang lain sebenarnya bisa diwujudkan dari hal-hal kecil, di rumah, dikantor, dalam perjalanan dan dalam keseharian. Tanpa disadari, sering kali kita menyepelekan hal2 kecil yang sebenarnya dapat kita lakukan dengan mudah buat orang lain. Padahal bisa jadi sangat berarti besar. Lalu kenapa kita masih sering malas menolong orang? Alasannya bisa macam-macem. Mungkin kita berpikir, ‘ah, ntar juga ada orang lain yang menolong. Ataukah mungkin juga kita merasa gak sempat memikirkan orang lain karena kesibukan ? Sebenarnya hal semacam ini banyak juga ya kita temui. Lagi enak2 tidur, ada orang yang butuh pertolongan saking paniknya pintu rumah di gedor-gedor. Menolongpun jadi dibumbui kesel. Lagi enak2makan, tahu2 seorang pengemis sudah ada dihadapan. Bisa jadi reaksi pertama adalah melengos atau mengibaskan tangan tanpa melihat raut wajah memelasnya yang mungkin saja sedang kelaparan. Padahal jika kita renungi lebih dalam, menolong orang adalah kesempatan. Terlepas yang membutuhkan pertolongan menerima atau tidak, tapi jangan lupa niat baik sudah di catat sebagai sebuah kebaikan.

Pengalaman teman ini memberi inspirasi buat saya, untuk merenung kembali betapa banyak sebenarnya saya telah membuang  kesempatan untuk mengamati sekeliling, dan melakukan sesuatu yang amat berarti buat orang lain. . So, Buat kita yang terbisa memikirkan diri sendiri, yok kita mulai memikirkan orang lain. Dimulai dari orang2 terdekat dan orang2 yang kita kasihi, keluarga di rumah dan orang2 yang kita temui setiap hari. Gimana, semoga bisa….

Salam hangat🙂

Jakarta,  23 April 2011

Etty Lismiati

Categories: Cakrawala | Tags: | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tulislah tanggapan anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: