Dirgahayu ke 483 Jakarta

Sebagai warga yang lahir dan besar di kota ini, saya coba sedikit merefleksi. Rangkaian acara untuk memeriahkan ulang tahun kota Jakarta yang ke 483 pada tanggal 22 Juni ini, pada intinya adalah gebyar Jakarta dengan berbagai promosi budaya hingga great sale dan pesta kembang api. Menarik memang, apalagi pas masa-masa liburan sekolah seperti ini.

Baru-baru ini bersama suami saya berada di seputar ‘Kota’ mencari obat Cina di Pasar Pagi. Tanpa rencana kami mampir ke beberapa tempat di seputar Kota Tua, yang telah memberikan sedikit banyak cerita perkembangan Jakarta dari masa ke masa. Mencoba mengenal lebih dekat pelosok kota, meski tempat ini sudah amat sering saya lewati tapi saya mencoba merasakan kembali aura masa lampau di kota tercinta ini.

Mengamati dari dekat gedung-gedung tua yang sengaja tidak direnovasi untuk lebih menguatkan kemegahannya di masa lalu. Terus ke arah utara dan memasuki Pelabuhan Sunda Kelapa. Mengamati kesibukan bongkar muat barang dan perdagangan antar pulau ke beberapa wilayah Indonesia. Hiruk-pikuknya konteiner dan truk-truk pengangkut barang di pelabuhan. Melihat dari dekat kesibukan kuli-kuli panggul, untuk yang kesekian kali, saya masih menemukan hal-hal menarik di luar keseharian saya. Kadang kala menakjubkan, mencermati pergulatan hidup mereka. Kehidupan yang keras ditengah perputaran roda kehidupan sebuah kota metropolitan. Mereka masih termarginalkan.

Kalau mau jujur, berapa banyak warga Jakarta yang tahu dan memahami sejarah kotanya sendiri. Anak-anak sekolah sekarang lebih suka jalan-jalan ke Ancol daripada mengunjungi tempat-tempat bersejarah di DKI. Orang tua mereka lebih sering mengajak mereka ke tempat-tempat semacam ini. Tempat wisata di luar Jakarta seperti Bali masih jadi primadona untuk mengisi liburan. Bagi sebagian masyarakat kita, bisa mengunjungi tempat-tempat wisata di luar negeri tentu saja harus merogoh kocek lebih dalam jika tidak menggunakan trik ‘bag packer’. Selain tempat-tempat itu, coba sekali waktu mengajak anak-anak kita ke musium dan memperkenalkan kepada mereka sejarah kota ini. Orang tua biasanya hanya mengandalkan pihak sekolah untuk berinisiatif mengadakan kunjungan ke musium bagi siswanya. Rasanya, sudah jarang sekolah di DKI mengajak siswanya wisata ke tempat bersejarah didalam kota. Saya ingat ketika masih SD dulu puluhan tahun yang lalu. Anak2 SD sekarang, sudah agak jarang, apalagi SMP. Merasa kurang prestise barangkali. Jadi jika ada usulan ke tempat-tempat ini untuk mengisi liburan sekolah, tidak mendapatkan apresiasi dari kalangan guru sendiri. Ini amat disayangkan memang.

Pelabuhan Sunda Kelapa dan Musium Bahari misalnya. Berapa banyak anak sekarang yang tahu kalau nenek moyang kita dulu adalah pelaut-pelaut ulung. Coba kita ajak mereka melihat sisi lain kehidupan di sudut Jakarta kita ini, yang bisa kita petik nilai sejarahnya. Mengambil hikmah untuk kehidupan mereka dimasa yang akan datang. Menumbuhkan kebanggaan sebagai bangsa yang memiliki kekayaan alam dan budaya. Kenapa potensi ini kurang dioptimalkan ? Padahal tidak jauh dari dinamika kehidupan kita sendiri. Orang luar saja jauh-jauh kesini, dan apa kata mereka melihat musium yang menyimpan bukti2 sejarah kota ini kok tidak tertata degan apik. Kok bangsa kita sendiri kurang menghargai ya, jorok, kumuh dan tidak di urus dengan baik. Pantas saja tidak banyak orang yang mau datang. Padahal kalau saja kita bisa mengemasnya menjadi tujuan wisata sejarah bisa menjadi sangat indah. Apalagi sarat dengan nilai2 pendidikan.

Bangunan tua ditengah kota, seolah merusak pemandangan mereka yang kurang perduli sejarah kota ini. Bangunan yang sengaja tidak direnovasi ini, bercerita tentang kemegahan masa lampau yang memberikan nilai eksotis tersendiri.
Cat pada pintu2 dan dinding musium yang terkelupas, sebuah cermin kandasnya penghayatan akan nilai2 sejarah, terhempas oleh gaya hidup hedonisme yang meretas.
Ini bukan di Eropa atau belahan lain di dunia ini. Pemandangan seperti ini gak kalah kaaan…cantiknya.! Siapa kira ini cuma salah satu sudut pelabuhan Sunda Kelapa! Di kota kita tercinta, JAKARTA !

Asyik rasanya melihat kesibukan di palabuhan. Distribusi sembako dan kebutuhan lainnya ke berbagai pulau di Nusantara. Ribuan buruh kuli panggul mungkin berada di sini setiap hari. Tenaga informal ini ikut ambil bagian dalam kiprahnya pada denyut nadi perekonomian di negeri ini

Di jaman VOC dulu tentu saja, gak ada hiruk pikuk kendaraan kayak gini. Lambang kapitalis yang masih menempel di dinding gedung tua ini, memberikan banyak cerita bagaimana roda perekonomian bergulir di jaman ‘kuda gigit besi’. Hanya memberikan kesejahteraan pada segelintir pribumi? Lalu sekarang, setelah sekian ratus tahun kemudian, di jaman ‘kuda sudah makan roti’, apakah bangsa kita juga sudah menjadi bangsa yang mandiri secara ekonomi ?

DIRHAHAYU KOTAKU….. Jakarta yang indah meskipun sumpek. Semoga nanti tidak ada lagi Jakarta yang macet, Jakarta yang banjir, Jakarta yang semrawut ! Kapan…. (Kapan2 deh !)

wassalam :=)

Jakarta, 221 Juni 2010

Etty, Lismiati

Categories: Cerita dibalik foto | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tulislah tanggapan anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: