Gusdur

Gus Dur, Sosok Insan Kamil

Oleh  : Etty Lismiati

Gak usah repot okay..?

data:image/jpeg;base64,

Orang seperti Gus Dur tak kan ada lagi, mungkin 2 atau 3 dekade berikutnya. Orang2 yang diperkenankan Allah untuk menjadi model (selain para Nabi dan Rosul) memang hanya segelintir saja dibanding jumlah umat manusia yang begitu banyak. Biasanya pemikiran2 orang seperti ini sering kali tidak mudah di kunyah oleh awam dengan tingkat pemahaman ala kadarnya. Hanya orang2 yang cerdas mungkin yang bisa memahami pemikiran Gus Dur, yang jauh ke depan melewati jamannya sehingga oleh orang biasa Gus Dus jadi dianggap sebagai manusia setengah dewa. Sebagian warga NU malah  mensejajarkannya dengan wali. Dalam pandangan mereka mungkin Gus Dur wali ke 10.

Kita tidak paham ketika Gus Dur mengambil langkah untuk mencalonkan diri sebagai presiden. Beberapa orang bahkan mengganggapnya gila. Apalagi ketika dalam era kepemimpinannya, Indonesia membuka hubungan diplomatik dengan Israel yang banyak ditentang. Langkah2 politiknya memang sulit dipahami, ditambah  gayanya yang nyeleneh apa adanya. Lontaran kata2nya yang sering kontrovesial inilah yang membuatnya begitu unik.

Terlepas dari berbagai kiprahnya di dunia Internasional, hubungannya dengan orang2 yang ‘di anggap’ musuh2 Islam, secara pribadi saya bangga, orang dengan kapasitas Gus Dur lahir di Indonesia. Menurut saya, Gus Dur cermin dari penerapan nilai2 tauhid, yang salah satunya adalah independensi. Orang seperti Gus Dur tidak ada yang ditakuti selain Allah. Dia tidak peduli meski di cap gila sekalipun.

Sesaat setelah Gus Dur dinyatakan wafat beberapa hari yang lalu, Rabu 30 Desember di penghujung tahun 2009, hampir semua stasiun TV menayangkan ‘Gus Dur in memoriam’. Orang2 terdekat Gus Dur berlomba memberikan kesaksiannya, bagaimana keseharian Gus Dur di mata mereka.. Mulai dari pengikut2 setianya hingga lawan2 politiknya, semua mengagumi sosok pribadi yang unik ini. Jika yang memuji Gus Dur dari kalangan NU sendiri, mungkin bagi saya bukan sesuatu yang luar biasa. Bisa saja mereka melebih-lebihkan.Tapi jika tokoh2 politik yang berseberangan dengan Gus Dur, mulai dari kalangan intelektual hingga pemuka2 agama diluar muslim, mereka berbicara bagaimana sosok Gus Dur sebenarnya, maka saya percaya bahwa Gus Dur memang diciptakan Allah dengan kelebihan yang hanya dimiliki oleh manusia setingkat wali.

Begitu banyak cerita  yang membuktikan bahwa Gus Dur dapat melihat  bukan dengan mata fisiknya. Begitu banyak cerita dari orang2 yang merasa hidupnya diayomi. Berkat Gus Dur pula sekarang kalangan etnis Tionghoa dapat hidup dengan jaminan kebebasan hak2nya yang paling hakiki sebagai manusia. Di bumi Indonesia dengan keragamannya ini, Gus Dur adalah bapak pluralisme sejati.

Baru saja saya melihat salah satu stasiun TV swasta mewancarai anak2 Gus Dur. Ini hari ke 4 setelah Gus Dur wafat. Saya terkesan ketika salah seorang anaknya bercerita bagaimana ayahnya menolak adanya undangan VIP dalam acara resepsi pernikahannya. Sebagaimana putri orang besar lainnya menikah, tentu saja dihadiri pula oleh pejabat2 dan petingi negara ini. Apalagi Gus Dur mantan Presiden RI ke 4(yang dilengserkan secara tragis oleh MPR). Tapi di mata Gus Dur, semua orang adalah VIP. Para undangan mulai dari Presiden, mantan2 presiden, pejabat2 tinggi negara hingga rakyat jelata mendapat perlakuan sama. Gaya bicara Gus Dur yang nyeleneh pun tidak lantas berubah ketika beliau menjabat sebagai presiden.

Kalimat khas yang menjadi ikonnya, ‘Gitu aja kok repot !’ ternyata tidak sekedar lontaran kalimat konyol tanpa makna. Disini saya mencermati Gus Dur ternyata dapat melihat persoalan hingga ke akarnya. Cara pandang yang konprehensif membuat langkah2 yang diambil tidak menjadi tambal sulam. Pemecahan yang tambal sulam hanya akan mengatasi persoalan sesaat. Bahkan menumbuhkan masalah baru yang lebih merepotkan. Jika benang kusut dari tiap persoalan dapat di urai, maka penyelesaiannya pun jadi lebih mudah. Maka ‘gitu aja kok repot ! jadi sebuah kalimat yang sebenarnya filosofis.

Cara pandang seperti ini membuktikan kecerdasannya hingga dalam kepemimpinannya, tak ada yang bertentangan antara perbuatan dan tutur kata.. Kita melihat bagaimana Gus Dur dalam waktu 3 bulan kepemimpinannya membabat habis aturan2 pemerintah yang membelenggu hak2 azasi kaum minoritas Tionghoa. Yang sudah berlaku lebih dari 30 tahun dan sudah berlangsung dalam era kepemimpinan 3 presiden sebelumnya. Memisahkan manusia dari akar budayanya dan memberikan ruang yang sempit bagi mereka untuk mengekspresikan nilai2 luhur budayanya, adalah salah  satu bentuk pelanggaran hak2 azasi. Maka tak heran, bagi kalangan etnis Tionghoa ini, Gus Dur diagungkan selayaknya dewa. Ketika itu banyak yang terheran-heran. Tapi jika kita melihat persoalan yang terkait dengan kaum minoritas ini di Indonesia, akan banyak persoalan yang ikut terpecahkan dengan mengembalikan hak2 dasar mereka.

Bayangkan, saya melihat betapa kerdilnya bangsa ini mencemburui kemapanan mereka di bidang ekonomi. Hingga tiap kali suasana politik memanas, mereka selalu jadi sasaran. Toko2nya di bakar. Padahal apa salah mereka. Betapa kasihan dan menyedihkannya, mereka dikejar-kejar oleh pribumi bangsa kita sendiri yang ‘cupek’ dan cemburu. Mereka bisa berhasil secara ekonomi seperti itu karena andil bangsa kita juga yang membuat mereka menjadi lebih ulet dan gigih. Seseorang yang hidup tanpa back up lingkungannya, secara naluriah akan memutar otaknya untuk mempertahankan diri sehingga menjadi lebih ulet dan kreatif. Hingga akhirnya berhasil menguasai hampir 80 % kekuatan ekonomi bangsa ini di berbagai sektor. Dan kita menjadi lebih cemburu lagi sampai jadi paranoid, semacam kekuatiran jika kelompok etnis ini menguasai bangsa kita secara politis. Penguasaan sektor ekonomi di tagan mereka ditambah lagi dengan mental oknum2 pejabat kita yang korup bobrok, memberi peluang konglemerat Tionghoa yang ingin memanfaatkan situasi ini untuk megeruk kekayaan alam kita, dengan tawaran uang yang menggiurkan pejabat2 kita. Maka tak heran konglemerat2 cina itu menjadi kurang peduli dengan habisnya sumber daya alam Indonesia. Membentuk eksklusivisme sendiri. Bila kerusuhan datang, mereka tinggal hengkang ke luar negeri. Mereka inilah sebenarnya yang menumbuhkan  kebencian kalangan pribumi, yang dengan mudahnya ‘cincay’  dengan pejabat2 kita yang korup. Tapi karena mereka memiliki banyak uang dan dapat dengan mudah hengkang ke luar negeri bila terjadi kerusuhan, akibatnya Tionghoa manapun yang masih berada di negeri ini, pasti jadi sasaran kemarahan. Kasihan sekali masyarakat Tionghoa yang menjadi sasaran kemarahan bangsa kita tiap kali suasana politik negeri ini panas. Ketika kerusuhan terjadi dimana-mana, bahkan yang jadi sasaran kadang kala siapa saja yang bermata sipit dan dianggap Cina. Lihatlah, rumah2 mereka harus dilindungi dengan jeruji tinggi atau berbagai bentuk pengamanan lainnya. Hidup di tengah2 bangsa ini seolah hidup ditengah hutan rimba, tanpa aturan hukum dan selalu ketakutan.Tragis ! Miris !

Mungkin Gus Dur mencoba mengurai benang kusut ini, diawali dengan mengembalikan hak2 azasi mereka,  diharapkan kaum minoritas ini dapat hidup berdampingan secara damai sebagai sesama warga negara. Mreka ikut memikirkan kelangsungan bangsa dan negara. Bagi oknum konglomerat Cina yang kaya, tidak lagi hanya memikirkan kepentingan kelompok eksklusifnya saja. Tidak hanya mengeruk kekayaan alam kita dan mengacak-acak aturan hukum dengan memanfaatkan mental oknum pejabat kita yang korup.

Mengupas pribadi Gus Dur, bagai menyelami samudra. Sosok kontroversi yang penuh warna. Memberikan penghargaan dengan sederetan gelar, bintang tanda jasa, atau membangun monumen, rasanya belumlah cukup. Penghargaan terbaik bagi Gus Dur adalah dengan meneruskan ide2nya, keberaniannya, kesederhanaanya, menghormati hak2 manusia dan menerapkan demokrasi secara dewasa. Bukan dengan mengkultuskannya hingga seolah dewa. Islam tidak membolehkan mengultuskan sesama manusia. Sebagaimana Nabi dan Rosul, Gus Dur adalah manusia yang kadang juga keliru. Kita yang kehilangan  putra terbaik bangsa, yang kagum akan sisi2 kemanusiannya, sudah selayaknya mengambil pelajaran dan meneruskan sisi2 baik Gus Dur sebagai sosok insan kamil yang harus diteladani.

Salam Hangat & Semangat

Jakarta,  3  Januari 2010

Etty Lismiati

Categories: Cakrawala | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tulislah tanggapan anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: