
Kemajuan wanita bukan berarti mengesampingkan kodratnya. Perjuangan Kartini bukan berarti memberikan peran wanita menyamai bahkan melampaui laki-laki. Wanita dan laki-laki memiliki kodratnya masing-masing. Benar bahwa saat ini wanita memiliki kesempatan luas untuk berekspresi, memiliki banyak peluang berprestasi.
Persoalannya adalah bagaimana kita sebagai wanita tetap memiliki eksistensi meskipun hanya sebagai ibu rumah tangga biasa, bisa mengembangkan diri dengan segala fasilitas yang ada di jaman ini, yang memiliki pengaruh terhadap kesuksesan keluarga, memberikan suasana yang kondusif bagi prestasi anak maupun suami. SALAH KAPRAH jika wanita yang melakukan pekerjaan yang lebih mengandalkan fisik seperti tukang becak, tukang batu atau kuli bangunan, hingga supir busway sekalipun, yang seharusnya dilakukan oleh laki-laki, lalu serta merta dikatakan melanjutkan perjuangan Kartini. Apakah ini yang di inginkan Kartini dan wanita-wanita saat ini? Coba liat sekarang, dengan dalih emansipasi betapa banyak akhirnya wanita yang ‘terjerembab’ pada situasi yang justru mamberi peluang bagi eksploitasi kaumnya sendiri.
Emansipasi mestinya diarahkan pada pola berpikir maju, bukan mengambil peran yang seharusnya dilakukan kaum laki-laki. Laki-laki tetap memiliki tanggung jawab utama, dan wanita juga memiliki peran yang tak kalah penting dalam membangun keluarga dan masyarakat. Bersama-sama dengan laki-laki, menurut peran dan kodratnya.
Di saat lapangan pekerjaan terbuka luas bagi kaum hawa dan persaingan kian ketat untuk meraihnya, banyak perusahaan yang lebih memilih pelamar wanita untuk pekerjaan yang mestinya cocok dilakukan oleh kaum pria. Ada semacam kecenderungan pihak perusahaan untuk mengambil manfaat banyak dari karyawan wanita. Mungkin bagi pihak perusahaan, umumnya karyawan wanita tidak banyak menentang kebijakan pimpinan meskipun merugikan karyawan. Jika tak ingin pekerjaan itu dialihkan ke orang lain alias di pecat, umumnya wanita lebih suka mengambil posisi aman. Apalagi jika motivasinya bekerja sekedar untuk memperoleh tambahan penghasilan. Jadi bukan sebagai penopang utama ekonomi keluarga. Untuk yang katagori ini, biasanya tidak akan banyak tuntutan alias gampang di atur. Manut oleh kebijakan perusahaan. Tidak banyak protes jika dibayar lebih murah meskipun kemampuannya sama bahkan mungkin lebih dari laki-laki.
Akibatnya tenaga wanita lebih banyak diserap di berbagai lapangan pekerjaan sementara laki-laki banyak yang jadi pengangguran. Jika wanita ini sudah berkeluarga sementara suaminya sulit mendapatkan pekerjaan, dampak yang mungkin timbul sebenarnya tak sesederhana yang kelihatan . Laki-laki pemalas, membiarkan wanita bekerja banting tulang menghidupi keluarga kadang mengatakan hal ini sudah menjadi tuntutan jaman. Lalu ujung-ujungnya dikaitkan dengan emansipasi. Pemahaman seperti ini terus bergulir pelan-pelan seiring dengan kemajuan jaman, yang sebenarnya adalah bentuk lain dari pembodohan.
Tuntutan hidup dan perkembangan teknologi mengikis pola hidup seimbang yang telah di atur alam dalam berbagi peran antara laki-laki dan perempuan. Tapi sekarang nyaris tanpa batas jelas lagi, mana yang pas dilakukan oleh perempuan dan mana yang tidak tergantikan. Semuanya menjadi layak dan sah2 saja. Lagi-lagi dengan dalih emansipasi.
Laki-laki jadi lupa akan tanggung jawabnya yang utama sementara wanita pun kebablasan dan merasa bisa berbuat semaunya. Laki-laki di rumah mengurus anak, segala ‘tetek bengek’ urusan dapur dan rumah tangga. Para wanita nyaris lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah bergulat dalam tuntutan prestasi kerja. Ada ungkapan bahwa dibalik laki-laki sukses ada perempuan hebat. Tapi tidak demikian sebaliknya, dibalik perempuan sukses malah mungkin membuat laki-laki jadi stress ! Emansipasi yang dipahami tanpa keseimbangan hingga kebablasan, akan mudah menghantam ego laki2. Apalagi jika pada dasarnya sudah bermental kerupuk.
Kalo kita mau ‘menelisik’ sejarah secara lebih teliti, terus terang saya lebih berdecak kagum pada perjuangan Cut Nyak Dien dan Dewi Sartika, yang secara jelas berbuat nyata bagi perubahan masyarakat di jamannya. Bukan berarti saya tidak mengagumi sosok Kartini, hanya saja tidak perlu berlebihan, karena ternyata banyak wanita Indonesia yang tidak terekpose kiprahnya bagi kemajuan kaumnya demi berbagai kepentingan dan situasi politik saat itu.
Tak apa kok kalo gak setuju. Saya melihat salah kaprahnya pemahaman emansipasi bagi kaum saya sendiri, hingga gerakan feminisme yang berkembang saat ini yang ternyata cukup memprihatinkan. Sekedar share aja sie…
Jakarta, 21 April 2011
Salam hangat & semangat :)
Etty Lismiati



